INILAH.COM, Jakarta – Harga minyak mentah dunia terus merangkak hingga nyaris menyentuh US$105 per barel menjauhi target. Perombakan asumsi APBN pun mencuat. Pertanda harga BBM bersubsidi tak akan naik?
M Doddy Arifianto, ekonom dari Universitas Ma Chung Malang, setuju jika asumsi Indonesia Crude Price (ICP) US$90 per barel dalam APBN 2012 dirombak. Tapi menurutnya, jika asumsi ini dinaikkan, sebenarnya lebih bersifat politis.
Hal itu, tegas Doddy, menandakan, pemerintah tidak siap untuk kembali menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Berdasarkan Undang-undang APBN 2012, pemerintah hanya akan membatasi kuota penggunaan BBM pada 1 April 2012. “Artinya, hanya mobil plat kuning yang boleh menggunakan BBM bersubsidi,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (21/2).
Pengalokasian BBM bersubsidi secara tepat sasaran dilakukan melalui pembatasan konsumsi BBM jenis premium untuk kendaraan roda empat pribadi pada wilayah Jawa-Bali sejak 1 April 2012. “Hingga sekarang, tidak ada sosialisasi padahal waktunya kurang dari 1,5 bulan lagi,” timpal Doddy.
Karena itu, secara kasat mata, lanjut dia, mustahil pembatasan BBM bersubsidi bisa dilaksanakan pada 1 April mendatang. “Jika pembatasan tak dilaksanakan, apakah mungkin pemerintah menaikkan BBM?” kata Doddy mempertanyakan.
Harga minyak ICP sudah di atas US$100 per barel seiring ketegangan politik di Timur Tengah terutama Selat Hormuz yang hampir 40% impor minyak dunia melalui jalur ini. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sudah di atas US$104 per barel. “Reliable tidaknya asumsi harga minyak US$90 per barel sangat tergantung,” ujarnya.
Menurutnya, level US$90 per barel, bisa realistis dengan syarat pemerintah menaikkan harga BBM sehingga subsidinya tidak membengkak. “Jika tidak, yang harus ditanggung pemerintah adalah selisih harga pasar dengan asumsi APBN dan selisih pemakaian dengan target kuota,” ucap dia.
Dalam UU APBN 2012 pasal 7 ayat 2 disebtukan, dari volume BBM jenis tertentu sebanyak 40 juta kiloliter (KL) sebanyak 2,5 juta KL BBM jenis premium tidak dicairkan anggarannya dan akan dievaluasi realisasinya dalam APBN Perubahan Tahun Anggaran 2012.
Karena itu, pemerintah dipaksa untuk menurunkan volume BBM menjadi 37,5 juta KL, padahal pada 2011 saja volume tersebut di atas 41 juta KL. PT Pertamina (Persero) menargetkan, penjualan BBM 2012 mencapai 57,05 juta kiloliter untuk 2012. Target tersebut terdiri atas BBM subsidi 39,87 juta kiloliter dan nonsubsidi 17,18 juta kiloliter.
Doddy memperkirakan, selisih harga minyak bisa mencapai US$20 per barel yang harus ditanggung APBN jika pemerintah tidak berani menaikkan harga BBM. Padahal, sudah hampir 5 tahun pemerintah menanggung beban subsidi sejak terakhir BBM naik pada 2008.
Artinya, lanjut Doddy, jika asumsi harga minyak tetap di level US$90 per barel, ada peluang BBM dinaikkan. “Sebaliknya, jika asumsinya dinaikkan, harga BBM bersubsidi berpeluang tetap di level saat ini. Tapi, ini lebih bersifat politis,” timpal Doddy. Karena itu, dari sisi alokasi APBN untuk BBM, akan terjadi defisit dengan perubahan asumsi itu.
Mengenai risiko fiskal soal melesetnya asumsi APBN, Doddy mengatakan, hal itu tidak membahayakan sustainabilitas fiskal. Sebab, jika melihat realisasi anggaran yang selalu ‘lelet’, APBN selalu mengalami silva (selisih positif).
Menurutnya, efektivitas fiskal rendah yakni hanya 80-90% (realisasi pengeluaran dibandingkan target APBN). Misalnya, APBN senilai Rp1.400 triliun, yang terealisasi hanya Rp1.300 atau Rp1.280 triliun.
Akibatnya, pertumbuhan ekonomi dan penerimaan negara di bawah target, tapi dari sisi pengeluaran pun di bawah target. Karena itu, secara netting tak mengganggu sustainabilitas fiskal. Apalagi dengan target defisit yang konservatif 1,5% dengan rasio utang 26% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). “Saya tidak khawatir dengan daya tahan fiskal secara keseluruhan,” ucapnya.
Dia mencontohkan, beban subsidi BBM yang membengkak, memang membebani APBN. Tapi, secara aggregate tidak membahayakan secara fiskal. Sebab, pemenuhannya hanya memindahkan pos yang realisasinya rendah ke pos yang realisasinya melebihi target. Dia menegaskan, pos APBN untuk subsidi BBM dipastikan jebol, tapi pos yang lain akan surplus karena perilaku pengeluaran pemerintah yang selalu lambat.
Selebihnya, Doddy juga mengomentari target Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang sebesar 6,7% pada 2012 yang dinilainya terlalu optimistis. Menurutnya, Indonesia bisa tumbuh 6,2% saja, sudah sangat bagus dalam situasi ekonomi global saat ini. “Karena itu, target PDB harus diturunkan dari level saat ini,” timpalnya.
Bahkan, kata Doddy, bukan mustahil, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa di bawah 6% tahun ini. Sebab, seberapa besar pengaruh negatif dari krisis Eropa belum bisa dipastikan kedalamannya. Tapi, kalaupun realisasi PDB meleset, akan berpengaruh pada penerimaan negara seperti pajak dan belanja negara yang lainnya.
Sementara itu, soal lifting minyak yang ditargetkan sebesar 950 ribu barel per hari, dia mempertanyakan apakah mungkin akan diturunkan kembali setelah tahun lalu gagal dicapai yakni hanya 900 ribu barel. “Padahal, target tersebut sudah terhitung rendah dari yang seharusnya di atas 1 juta barel per hari,” ujarnya.
Di sisi lain, Doddy menilai, asumsi inflasi 5,3-5,5% merupakan angka yang wajar jika BBM tidak dinaikkan. Sedangkan target nilai tukar rupiah di level 8.800 per dolar AS dinilainya terlalu optimistis. “Yang realistis adalah 9.000 per dolar AS,” ujar dia. Berkaca pada APBN-APBN sebelumnya, kada dia, yang selalu meleset adalah target PDB. Tapi, secara umum jarang meleset. [mdr]